Minggu, 26 Januari 2014

Pengalaman Hidup: Mengikuti Tes dan Lolos sebagai CPNS Kementerian Luar Negeri

Saya sejak bulan Juni 2011 bekerja di KBRI Yangon sebagai local staff di fungsi politik. Di akhir bulan September 2013, ketika sedang asyik mengerjakan laporan di kantor, saya tiba-tiba mendapat pesan dari Mas Bugi, sepupu saya yang menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) bahwa Kementerian Luar Negeri akan segera membuka lowongan CPNS dan saya diminta bersiap untuk mendaftarkan diri. Saya langsung melihat situs e-cpns.kemlu.go.id namun situs tersebut masih memuat informasi penerimaan CPNS tahun 2012. Walaupun demikian, saya mengikuti arahan sepupu saya dan mempersiapkan segala persayaratannya. Beberapa hari kemudian, situs e-cpns.kemlu.go.id untuk penerimaan CPNS tahun 2013 dibuka dan saya telah siap dengan semua persyaratannya. Karena saya berada di Yangon, saya harus bergerak cepat.

Saya sempat mencoba mendaftar CPNS Kementerian Luar Negeri di tahun 2012 dengan mengirimkan lamaran melalui kantor pos Myanmar jauh sebelum deadline, namun ternyata berkas tidak diterima oleh panitia. Saya cukup kecewa ketika itu. Karena tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, untuk pendaftaran kali ini saya mengirimkan berkas saya melalui DHL kepada orang tua saya di Jogja dan meminta bantuan orang tua saya untuk mengirimkan berkas saya ke PO BOX yang diminta. Walaupun harus membayar US$ 52 untuk pengiriman melalui DHL tersebut, saya lega mengetahui bahwa kali ini berkas saya telah diterima oleh panitia.

Ketika mengetahui bahwa saya lolos tes administrasi dan setelah diumumkan jadwal Tes Kompetensi Dasar (TKD), saya meminta ijin Bapak Duta Besar untuk pergi ke Jakarta untuk mengikuti TKD tersebut. Tidak lupa sebelum berangkat saya meminta doa restu serta dukungan dari seluruh rekan di KBRI Yangon.

Dalam mempersiapkan TKD, saya hanya belajar dengan browsing soal-soal di internet melalui smartphone saya. Contoh-contoh soal TKD dari tahun-tahun sebelumnya mudah didapat dan diunduh dari internet. Kartu ujian kali ini diminta untuk diprint sendiri sehingga tidak perlu repot-repot untuk mengambil kartu ujian seperti yang pernah saya alami ketika mendaftar CPNS Kementerian Luar Negeri di tahun 2010 (ya, kali ini berarti percobaan saya yang ketiga mendaftarkan diri sebagai CPNS Kementerian Luar Negeri). TKD diadakan di Pusdiklat Kemlu di Jl. Sisingamangaraja. Suasana TKD cukup santai dan tidak terlalu padat karena terbagi menjadi cukup banyak sesi dimana per sesi diikuti oleh sekitar 250an peserta. TKD dilakukan dengan komputer (CAT) dimana laptop sudah disediakan oleh panitia. Saya tidak terlalu kaget ketika melihat soal-soal TKD dan banyak dari soal-soal tersebut sesuai dengan yang saya pelajari di internet, meliputi tes wawasan kebangsaan, tes intelegensia umum, dan tes kepribadian. Hasil tes TKD dapat langsung terlihat di layar komputer begitu selesai tes dan kemudian dipampang di beberapa monitor LCD di luar ruang ujian. Saat itu saya cukup tenang ketika melihat skor TKD saya berada diatas rata-rata para peserta yang tes di sesi itu. Setelah TKD selesai, sebelum kembali ke Yangon, saya bertamu ke rumah saudara-saudara saya di Jakarta untuk meminta doa restu dan dukungan karena saya percaya semakin banyak doa yang kita dapatkan, peluang akan semakin terbuka.

Saya kembali bekerja di KBRI Yangon sambil menunggu pengumuman hasil TKD saya karena jarak waktu antara pelaksanaan TKD, pengumuman hasil TKD, dan Tes Kompetensi Bidang (TKB) cukup lama. Ketika pengumuman hasil TKD keluar dan dinyatakan lulus, saya meminta ijin kepada Bapak Duta Besar untuk kembali ke Jakarta untuk mengikuti tahapan tes selanjutnya. Ketika saya menjelaskan bahwa jarak antar tahapan tes cukup dekat, saya cukup kaget dan sangat bersyukur ketika Bapak Duta Besar memberikan saya ijin penuh untuk tinggal di Jakarta hingga seluruh rangkaian tes selesai.

Dalam mempersiapkan TKB, strategi saya tetap sama, yaitu belajar dengan browsing soal-soal di internet melalui smartphone saya. Selain itu, saya cukup percaya diri dengan ilmu yang saya dapatkan selama bekerja di KBRI Yangon sebagai local staff fungsi politik yang tugas sehari-hari adalah memonitor perkembangan politik dunia pada umumnya dan perkembangan politik Myanmar pada khususnya. TKB diadakan di arena Pekan Raya Jakarta di Kemayoran. Dari 5186 peserta jalur PDK yang mengikuti TKD, telah tersaring menjadi sekitar 1450 peserta lolos mengikuti TKB. Suasana di Kemayoran juga tidak terlalu ramai, dibandingkan dengan yang saya alami ketika mengikuti tes di Kemayoran pada tahun 2010. Namun demikian, selain siap dari segi substansi, kita juga harus siap secara fisik karena kita tidak disediakan meja untuk mengerjakan soal-soal, hanya disediakan kursi dan kita harus membawa alas papan sendiri untuk mengerjakan soal-soal TKB. Soalnya berupa pilihan ganda dan essay, ada yang menggunakan Bahasa Indonesia dan ada yang menggunakan Bahasa Inggris.

Karena diijinkan untuk tetap tinggal di Indonesia selama rangkaian tes, saya pulang ke kampung halaman saya di Jogja sambil menunggu pengumuman dan mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan seperti SKCK , kartu pencari kerja (kartu kuning yang tidak berwarna kuning), surat keterangan sehat, dan surat keterangan bebas narkoba. Selang beberapa hari, betapa bahagianya ketika mengetahui bahwa saya lulus TKB, karena bagi saya tahap TKB merupakan salah satu tahap yang paling vital karena cukup banyak orang yang gugur di tahapan ini.

Saya kemudian kembali ke Jakarta untuk mengikuti tahapan tes selanjutnya, yaitu Tes Kemampuan Bahasa Asing. Karena saya memilih Bahasa Inggris, tes diadakan di LIA Jl. Pramuka, Jakarta. Saya sebenarnya agak meng-underestimate tes Bahasa Inggris ini karena sebelumnya saya pernah melakukan tes TOEFL dan mendapatkan hasil diatas 600, tapi begitu mengerjakan tes ini, saya sempat panik karena ternyata soal-soalnya cukup sulit. Namun berapa hari kemudian diumumkan bahwa saya lolos dan berhak untuk mengikuti rangkaian tes final.

Rangkaian tes final terdiri dari tes psikologi tertulis, wawancara psikologi, wawancara substansi dan tes kesehatan. Tes psikologi tertulis dilakukan seharian penuh dari pagi sampai sore dan panitia menyediakan makan siang. Saya merasa cukup kesulitan dalam mengerjakan tes psikologi tertulis, terutama di bagian hitung-menghitung serta pauli, dan rasa percaya diri yang selama ini kuat mulai memudar. Beberapa hari kemudian saya mengikuti tes wawancara psikologi. Saya diwawancarai oleh seorang bapak-bapak, sepertinya anggota TNI, dengan gaya bicara yang sangat kaku. Saya ditanyai soal pengalaman kerja, pengalaman tinggal di luar negeri, dan pertanyaan yang menurut saya cukup sulit yaitu, “Terobosan apa yang dapat anda buat jika anda diterima sebagai PNS di Kementerian Luar Negeri?”. Saya juga cukup terkejut ketika saya ditanya mengenai hasil tes psikologi tertulis saya yang mungkin kurang meyakinkan. Hasil tes pauli saya tiba-tiba diletakkan diatas meja dan si bapak bilang “Kamu lambat, satu halaman saja tidak selesai… Kenapa ini? Kamu susah konsentrasi ya?” Sontak saya langsung jawab dengan nada yang sedikit ketus, “Pak, saya dari dulu memang lemah dalam berhitung, makanya saya lambat, dan karena itu saya memilih jurusan Hubungan Internasional yang tidak ada hitung-menghitungnya”. Si bapak hanya manggut-manggut dan tidak lama setelah itu saya dipersilakan keluar. Setelah wawancara psikologi itu, mental saya semakin drop, semakin tidak yakin bahwa saya akan diterima, tapi saya terus berdoa.

Beberapa hari kemudian saya harus menghadapi ujian yang menurut saya paling berat yaitu wawancara substansi. Jadwal tes saya jam 1 siang, tapi karena tidak ingin terlambat karena kemacetan di Jakarta, saya sudah tiba di lokasi ujian jam 11. Betapa kagetnya saya ketika panitia meminta saya untuk langsung masuk karena kebetulan ruang wawancara saya sedang kosong. Dengan terburu-buru dan kurang persiapan mental saya masuk ke ruang wawancara. Didalam seharusnya ada tiga orang pewawancara, namun saat itu hanya ada dua orang, satu orang pejabat aktif Kementerian Luar Negeri, dan satu orang Duta Besar (saya tahu dia seorang Duta Besar karena selain sudah tua, bapak yang satunya selalu manggil dia “Pak Dubes”). Satu orang lagi mungkin sedang istirahat, namun wawancara tetap dilanjutkan walau hanya dengan dua orang pewawancara. Sebenarnya papan nama para pewawancara terpampang jelas di meja, namun ketika masuk ruangan, pandangan saya benar-benar kabur dan tidak sempat membaca papan nama siapa-siapa yang mewawancarai saya. Setelah berbasa-basi sebentar, kata-kata “Please tell me about yourself…” terlontar dari Pak Dubes. Dengan full Bahasa Inggris, saya menjelaskan bahwa saya seorang local staff fungsi politik di KBRI Yangon. Pertanyaan selanjutnyapun berkaitan dengan Myanmar dimana saya yakin dapat menjawab dengan akurat, bahkan saya yakin bahwa para pewawancara tidak akan se-update saya jika berbicara mengenai Myanmar karena sayalah yang terus mendapatkan firsthand experience selama menjadi local staff di KBRI Yangon sehingga seringkali mereka hanya manggut-manggut ketika saya menerangkan. Saya sedikit cemas ketika topik beralih mengenai skripsi saya dimana saya membahas mengenai “Fortress Europe, Integrasi Uni Eropa dan Kekhawatiran Negara-Negara Non-Anggota Uni Eropa”. Saya baru menjelaskan sedikit mengenai skripsi saya dan tiba-tiba saya dipotong oleh Pak Dubes dimana saya dikuliahi mengenai sejarah hubungan Uni Eropa dan ASEAN (kayaknya Pak Dubes ini memang pakar Uni Eropa dan ASEAN). Setelah itu topik beralih mengenai proses reformasi di Indonesia, penanganan korupsi, permasalahan di Laut Cina Selatan, dan yang terakhir yang sempat membuat saya speechless, yaitu mengenai relevansi Gerakan Non-Blok dengan perkembangan dunia saat ini. Beberapa kali saya coba menjawab tetapi selalu di-counter hingga pada suatu saat saya tergagap hingga benar-benar terdiam. Jawaban yang sebenarnyapun tidak disampaikan oleh para pewawancara hingga akhirnya wawancara selesai dan saya dipersilakan keluar. Sayapun keluar ruangan facepalming, tidak ingin melihat wajah siapapun di lokasi ujian, langsung masuk mobil dan menghibur diri ke mall. Ketika itu saya benar-benar pasrah, tidak ada lagi ambisi.

Beberapa hari kemudian saya mengikuti tes kesehatan yang diadakan di RSPAD Gatot Subroto. Sampel urine dan darah diambil, dilakukan ronsen paru-paru, cek penyakit dalam, serta mengerjakan tes MMPI (psikiatri).

Setelah rangkaian tes final selesai, saya kembali ke Myanmar yang kebetulan sedang sibuk dengan agenda SEA Games ke-27 sehingga saya terus sibuk hingga tidak terlalu memikirkan hasil tes saya. Pada tanggal 30 Desember, Mas Bugi, sepupu saya di BKN tiba-tiba mengirimkan ucapan selamat bahwa hasil tes dari Kemlu telah dikirimkan ke Kemenpan dan nama saya masuk ke dalam daftar yang lulus. Pada saat itu semangat saya kembali muncul dan justru doa saya semakin kuat. Akhirnya pada tanggal 31 Desember sore, pengumuman resmi keluar dan saya ternyata benar-benar lulus. Saya langsung sujud syukur dan menemui semua rekan saya di KBRI Yangon untuk mengucapkan terimakasih atas semua doa dan dukungannya. Kabar gembira juga langsung tersiar ke Bapak Duta Besar hingga ucapan selamat diberikan kepada saya melalui pidato tahun baru yang disampaikan oleh Bapak Duta Besar pada malam harinya dihadapan seluruh WNI yang hadir pada acara malam doa bersama menyambut tahun baru yang diadakan di Indonesian International School Yangon (IISY). Benar-benar ini merupakan hadiah tahun baru terindah bagi saya.

Secepat mungkin saya menyelesaikan urusan administrasi di KBRI Yangon dan saya diberhentikan secara hormat dari tugas saya sebagai staff fungsi politik. Saya sangat bangga dan bersyukur dapat menjadi bagian dari keluarga besar KBRI Yangon yang telah memberi saya bimbingan serta dukungan hingga saya dapat diterima sebagai seorang CPNS di Kementerian Luar Negeri.

Masih banyak orang yang mengira kalau proses penerimaan CPNS Kementerian Luar Negeri masih syarat dengan KKN atau harus membayar mahal, tapi disini saya tekankan bahwa samasekali tidak ada unsur KKN pada proses penerimaan CPNS di Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Luar Negeri tidak menarik biaya sepeserpun pada proses seleksi. Walaupun demikian, saya harus mengatakan bahwa biaya yang saya keluarkan tidaklah sedikit. Banyak biaya yang harus ditanggung sendiri yang pada beberapa kondisi seperti saya jatuhnya lumayan mahal, seperti biaya pengiriman dokumen melalui DHL dari Myanmar, transportasi saya bolak-balik dari Myanmar, serta biaya pembuatan surat keterangan sehat dan surat keterangan bebas narkoba dari rumah sakit. Namun semua itu tidak ada yang masuk ke kantong Kemlu karena itu semua merupakan keperluan pribadi untuk dapat mengikuti tes.

Sekian pengalaman saya dalam mengikuti tes hingga akhirnya diterima sebagai seorang CPNS di Kementerian Luar Negeri. Tidak banyak saran yang saya berikan jika anda juga ingin mengikuti tes CPNS Kementerian Luar Negeri di tahun-tahun selanjutnya selain banyak berdoa. Bukan hanya doa dari diri sendiri, namun jangan remehkan kekuatan doa dari orang tua, serta saudara dan teman-teman dekat. Jangan remehkan the power of friendship karena semakin banyak teman baik, semakin banyak pula yang akan mendoakan kita dan yang akan turut berbahagia apabila kita berhasil. Bagi yang telah mencoba mengikuti tes dan masih gagal, jangan menyerah. Buktinya saya baru keterima setelah percobaan ketiga. Mungkin sambil menunggu bukaan selanjutnya, bisa coba untuk menjadi local staff, karena saya yakin pengalaman sebagai seorang local staff akan sangat berharga ketika kita mengikuti tes CPNS Kementerian Luar Negeri.

Sabtu, 25 Januari 2014

Review: Golden Myanmar Airlines from Singapore to Yangon and Yangon to Singapore

Pada akhir bulan November 2013 ketika saya butuh untuk terbang dari Singapura ke Yangon, saya sempat kebingungan karena harga tiket pesawat yang cukup mahal. Harga tiket Singapore Airlines / Silk Air mencapai lebih dari US$ 330, bahkan low-cost carrier seperti Jetstar memasang tarif lebih dari US$ 256 one-way. Kemudian saya ingat bahwa saya memiliki teman yang bekerja di Golden Myanmar Airlines (GMA), maskapai yang ternyata juga memiliki rute penerbangan Singapura-Yangon. Ketika saya melihat harga tiket GMA secara online, saya cukup terkejut dengan harga tiket yang cukup murah, yaitu US$ 106 untuk rute one-way Singapura-Yangon, sudah termasuk bagasi 20kg. Karena saya tidak memiliki kartu kredit, saya meminta tolong teman saya untuk membelikan tiket dari travel agent di Yangon dan agar itinerarynya dikirimkan melalui e-mail. Ketika saya tanyakan ke teman saya, ternyata harga di travel agent sama dengan harga tiket online.

Saya sempat mengalami masalah karena perlu untuk memajukan satu hari jadwal penerbangan saya. Ketika saya berada di Changi Airport saya sempat bingung mencari counter GMA untuk mengurus perubahan tiket saya. Ketika saya tanya ke bagian informasi, diberitahukan bahwa counter GMA baru buka jam 1 siang, padahal ketika itu masih jam 10 pagi. Sayapun diminta untuk datang ke kantor GMA di lantai 4 Terminal 1 Changi Airport jika ingin memajukan jadwal penerbangan saya. Orang-orang di kantor GMA cukup ramah dan melayani perubahan tiket saya dengan cepat. Saya hanya dikenakan biaya perubahan tiket sebesar 36 Dolar Singapura (totalnya masih jauh lebih murah dari harga tiket maskapai lain).

Ketika dilihat dari luar, pesawat GMA Airbus a320-232 dengan registrasi XY-AGS yang saya gunakan untuk rute Singapura-Yangon tampak baru, namun ketika masuk ke kabin langsung tahu bahwa sebenarnya pesawat yang saya naiki sudah cukup berumur (first flight 17 Januari 2001), terlihat dari panel-panelnya yang sudah kusam dengan kursi berwarna biru yang tidak dibungkus kulit. Saya merasakan legroom yang sangat sempit dan menemukan desain sabuk pengaman yang cukup unik (dengan dua lubang pengunci) yang bagi saya sedikit lebih sulit untuk dipasangkan daripada sabuk pengaman biasanya. Karena termasuk low-cost carrier, tidak ada hiburan di dalam kabin kecuali majalah.

Pengumuman oleh pilot dan pramugari disampaikan menggunakan dua bahasa, Inggris dan Myanmar. Saya memperhatikan bahwa hampir seluruh penumpang GMA rute Singapura-Yangon adalah warga negara Myanmar, terlihat dari paspor dan bahasa berbicara mereka sehingga mereka sangat terbantu dengan pengumuman yang disampaikan dengan Bahasa Myanmar. Pramugari dan pramugara GMA sangat ramah, bahkan mereka membantu mengisikan arrival card bagi orang-orang Myanmar yang kebanyakan masih kesulitan dalam pengisiannya. Ketika melihat menu makanan dan minuman yang dijajakan di dalam pesawat, saya cukup terkejut dengan murahnya harga makanan dan minuman yang ditawarkan dibandingkan dengan low-cost carrier lain yang pernah saya naiki seperti AirAsia atau Jetstar, bahkan kita dapat membayar dengan mata uang Myanmar (Kyat). Setibanya di Yangon International Airport, pesawat parkir di depan terminal domestik dan tidak terparkir di boarding bridge sehingga kita diantar menggunakan bus ke terminal internasional.

Karena cukup puas dengan penerbangan pertama saya dengan GMA, di awal bulan Januari 2014 ketika saya butuh terbang dari Yangon ke Singapura, saya kembali menggunakan GMA untuk kedua kalinya. Kali ini saya membayar US$ 144 untuk tiket saya, sudah termasuk jatah bagasi 40kg. Pesawatpun parkir di terminal domestik Yangon Internatinal Airport sehingga harus menggunakan bus menuju pesawat dan tidak melalui boarding bridge. Saya sempat mengira akan menggunakan pesawat XY-AGS seperti sebelumnya, ternyata kali ini saya mendapatkan pesawat yang lebih baru yaitu Airbus a320-232 dengan registrasi XY-AGT (first flight 23 Maret 2004). Interior pesawat tampak lebih bersih dengan kursi berbalut kulit dan desain sabuk pengaman konvensional seperti pesawat lainnya.

Overall, saya cukup puas dengan pelayanan yang diberikan oleh GMA. Keluhan saya hanyalah legroom yang cukup sempit. Ketika saya mengeluhkan hal tersebut kepada teman saya yang bekerja di GMA, ia mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan saya keluhkan apabila saya memesan tempat duduk didepan dengan hanya menambah biaya sebesar US$ 10.

Selasa, 03 Desember 2013

Review: Batik Air Economy Class from Jakarta to Yogyakarta

Saya pada awalnya cukup penasaran dengan kualitas pelayanan yang diberikan oleh Batik Air karena banyak yang mengatakan bahwa Batik Air merupakan versi premium Lion Air yang berusaha masuk ke pasar pengguna Garuda Indonesia. Begitu saya diharuskan untuk terbang dari Jakarta menuju kampung halaman saya di Yogyakarta, saya langsung membuka situs batikair.com untuk memesan tiket. Situs batikair.com lebih sederhana dan lebih cepat (loading dan prosesnya) dibandingkan situs lionair.co.id., padahal di situs batikair.com kita juga dapat memesan tiket Lion Air maupun Wings Air yang notabene masih satu grup. Saya cukup puas dengan kinerja website dan pemesanan tiket onlinenya (dengan pembayaran melalui ATM). Begitu tiket dibayarkan melalui ATM, e-mail itinerary langsung diterima. Saya mendapatkan tiket one way Jakarta – Jogja seharga Rp 445.000,00 (promo kelas ekonomi) yang bagi saya masih cukup murah dibandingkan dengan tiket Garuda Indonesia yang harganya biasanya diatas Rp 600.000,00.

Tanggal 27 Oktober 2013 adalah pertama kalinya saya terbang menggunakan Batik Air. Batik Air terbang dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Jam penerbangan saya dijadwalkan pagi pukul 5:40 WIB. Sayapun tiba di Terminal 3 satu jam sebelumnya (sekitar pukul 4:40) dan betapa kagetnya saya ketika itu bahwa saya sudah langsung dipanggil untuk boarding. Saya sedikit terburu-buru untuk masuk ke dalam pesawat dan ketika masuk ke dalam pesawat ternyata pesawat masih lumayan kosong. Ternyata pemanggilan boarding dilakukan lebih awal dan para penumpang diminta untuk menunggu cukup lama di dalam pesawat. Saya hingga bulan Desember 2013 telah tiga kali terbang menggunakan Batik Air dan hal tersebut memang terus terjadi dimana para penumpang diminta boarding awal dan menunggu di dalam pesawat (namun berangkat on-time). Beruntung AC di dalam kabin dingin sepanjang waktu, tidak seperti kejadian yang menimpa Lion Air pada bulan Oktober 2013 ketika seorang penumpang terpaksa membuka pintu darurat karena kepanasan menunggu di dalam pesawat. Pagi itu, ketika semua penumpang yang terdaftar telah masuk kedalam pesawat, pintu pesawat langsung ditutup dan siap untuk berangkat, bahkan pagi itu penerbangan ID 6360 menggunakan Boeing 737-900ER registrasi PK-LBM tiba di Yogyakarta 10 menit lebih awal dari jadwal.

Dari segi pelayanan, saya merasa standar Batik Air masih jauh dibawah Garuda Indonesia. Saya tidak merasakan keramahan dari para pramugari Batik Air. Anggapan saya, pada penerbangan pagi hari, seharusnya para pramugari masih dalam keadaan fresh dan mampu bersikap ramah kepada penumpang, bukannya bersikap judes. Saya juga sedikit kecewa ketika kotak snack dibagikan, kotak snack tersebut terasa ‘berat’. Ternyata sudah terdapat air mineral di dalam kotak snack tersebut dan kita tidak akan mendapatkan drink service (kopi / teh / juice / softdrink) seperti pada penerbangan Garuda Indonesia. Selain air mineral, didalam kotak tersebut hanya terdapat sebuah roti coklat yang hambar.

Diluar pelayanan, armada yang digunakan Batik Air cukup nyaman. Pesawat Boeing 737-900ER registrasi PK-LBM yang saya gunakan pagi itu masih tergolong baru (delivery date 18 April 2013). Setiap kursi berbalut kulit. Legroom cukup luas untuk kelas ekonomi dan Audio Video On Demand (AVOD) terdapat di setiap kursi. Walaupun demikian, untuk mendengarkan suara dari sistem AVOD tersebut, kita harus membeli headphone seharga Rp 25.000,00. Colokan headphonenya tidak umum sehingga saya tidak bisa menggunakan headphone milik saya sendiri (walaupun saya membawa adaptor colokan dobel yang biasanya cocok dipakai di pesawat-pesawat lain). Kalau kita tidak ingin menonton film, mendengarkan lagu, atau main game, AVOD tersebut dapat menunjukkan flight information yang bagi saya cukup menarik dan informatif. Sistem AVOD akan dimatikan 10 menit sebelum mendarat.

Overall saya cukup senang menggunakan Batik Air karena harganya bagi saya masih cukup terjangkau dibandingkan dengan Garuda Indonesia untuk rute penerbangan yang sama dan dari pengalaman saya beberapa kali terbang menggunakan Batik Air, selalu on-time. Namun saya tidak akan berharap akan mendapatkan servis yang baik dari para pramugari ataupun snack atau minuman yang menarik di dalam pesawat. Dengan harga tiket hanya berselisih Rp 150ribuan dari saudaranya Lion Air, saya tentu akan lebih memilih Batik Air.

Senin, 02 Desember 2013

Review: Malaysia Airlines Business Class from Yangon to Jakarta

Ketika saya mendadak butuh terbang dari Yangon ke Jakarta, saya mendatangi kantor Malaysia Airlines di Central Hotel Yangon untuk membeli tiket karena setelah melakukan survei di internet, tiket Malaysia Airlines berharga lebih murah daripada tiket maskapai lain seperti Singapore Airlines (via Singapura) dan Thai Airways (via Bangkok). Saya cukup terkejut ketika tiket kelas bisnis Malaysia Airlines one way Yangon – Jakarta via Kuala Lumpur dijual dengan harga promo yang cukup terjangkau, yaitu US$ 360, padahal biasanya harga tiket kelas bisnis one way sekitar US$ 600. Selisih dengan tiket kelas ekonomi juga hanya US$ 80. Karenanya, saya tidak berpikir panjang untuk segera memesan tiket kelas bisnis tersebut.

Saya terbang pada tanggal 4 Oktober 2013 dengan MH 741 (Yangon – Kuala Lumpur) dan MH 725 (Kuala Lumpur – Jakarta). Setelah cek in di counter Malaysia Airlines di Yangon International Airport, karena saya memegang tiket kelas bisnis, saya dipersilakan untuk menunggu di Royal Jade Lounge. Lounge tersebut cukup nyaman dengan berbagai makanan dan minuman yang bisa kita ambil sepuasnya, serta koneksi wifi yang lebih baik daripada area lain di bandara (walaupun masih tergolong lambat). Royal Jade Lounge di Yangon International Airport dari segi kenyamanan dan kelengkapan makanan menurut saya masih kalah jauh dibandingkan Executive Lounge Garuda Indonesia di terminal 2F.

Penumpang kelas bisnis menjadi yang pertama dipersilakan masuk ke dalam pesawat. Tempat duduk kelas bisnis ukurannya cukup lebar, terlapis kulit, dan bantal serta selimut sudah siap diatasnya. Ketika duduk, saya disambut dengan welcome drink (pilihannya orange juice, apple juice, dan signature drink Malaysia Airline yaitu pink guava juice) dan juga hot towel. Saya sedikit kecewa ketika mengetahui bahwa Boeing 737-800 registrasi 9M-MLG pada penerbangan MH 741 yang saya naiki tidak memiliki Audio Video on Demand (AVOD) sehingga tidak terdapat hiburan apapun selama perjalanan saya dari Yangon ke Kuala Lumpur dan memaksa saya hanya mengandalkan gadget pribadi saya untuk hiburan selama penerbangan. Namun demikian, pramugari Malaysia Airlines memberikan pelayanan yang cukup baik. Hidangan makan siang yang disajikan rasanya biasa saja bagi saya (saya memilih seafood and potatoes), namun karena penghidangannya standar kelas bisnis jadi makan siang di pesawat terkesan lebih istimewa.

Transit saya di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) berlangsung cukup cepat, tidak sampai satu jam. Untung saja pesawat saya dari Yangon hanya berada di gate yang bersebelahan dengan pesawat saya menuju Jakarta.

Ketika masuk di pesawat Boeing 737-800 registrasi 9M-MXL pada penerbangan MH 725, saya merasakan suasana yang sangat berbeda. 9M-MXL merupakan pesawat yang lebih baru daripada 9M-MLG yang saya gunakan sebelumnya dari Yangon. Pesawat saya kali ini telah dilengkapi dengan AVOD dan Boeing Sky Interior yang nyaman. Saya disambut dengan welcome drink dan hot towel, sama dengan penerbangan sebelumnya. Namun, makanan yang saya pilih rasanya jauh lebih enak daripada makanan pada penerbangan sebelumnya (saya memilih beef lasagna – dengan strawberry cake yang enak banget dan juga coklat Godiva). Pilihan film yang ditawarkan melalui AVOD cukup banyak dan dalam perjalanan saya dari Kuala Lumpur ke Jakarta saya berkesempatan menikmati film Hangover 3 sambil menikmati hidangan makan malam. Saya hanya sedikit kecewa dengan kualitas headphone yang disediakan yang terkesan sangat murah dengan kualitas suara yang tidak dapat dibilang bagus.

Saya tiba di Jakarta tepat waktu tanpa merasa lelah sedikitpun. Apabila memiliki dana lebih atau kebetulan terdapat tiket bisnis promo Malaysia Airlines, saya tidak akan berpikir dua kali untuk membelinya karena kelas bisnis benar-benar memberikan flight experience yang jauh lebih menyenangkan daripada kelas ekonomi. Namun bagi saya, akan sayang apabila anda menggunakan kelas bisnis untuk penerbangan yang kurang dari satu jam karena anda tidak akan dapat menikmati servis yang diberikan secara maksimal.

Review: AirAsia

Saya sejak kecil sangat tertarik dengan dunia penerbangan, namun baru beberapa tahun terakhir ini ketika saya bekerja di luar negeri saya mendapatkan kesempatan untuk sering terbang menggunakan pesawat udara. Melalui blog saya, saya ingin berbagi pengalaman mengenai perjalanan saya menggunakan beberapa maskapai dan pengalaman menyinggahi beberapa bandara.

AirAsia menjadi maskapai yang paling sering saya gunakan selain karena harga tiket yang paling terjangkau dan memiliki banyak rute termasuk ke kampung halaman saya yaitu Yogyakarta. Saya yang saat ini bekerja di Yangon dengan AirAsia menjadi mudah untuk pulang kampung dengan rute paling cepat yaitu Yangon – Kuala Lumpur – Yogyakarta.

Untuk mendapatkan tiket AirAsia berharga murah, anda harus rajin-rajin melihat situs airasia.com untuk mendapatkan tiket promo dan menggunakan kartu kredit untuk memesannya. Apabila anda tidak memiliki kartu kredit, sebaiknya anda meminta tolong teman yang memiliki kartu kredit untuk memesan tiket AirAsia untuk anda, karena harga tiket di agen travel tidak akan semurah harga tiket yang tercantum di situs airasia.com.

Karena AirAsia merupakan low-cost carrier, jangan heran apabila anda diminta untuk membayar lebih apabila ingin memilih tempat duduk, menambah bagasi, dan memesan makanan. Low-cost carrier akan sangat efisien apabila anda tidak memesan tempat duduk, bagasi, atau makanan. Apabila anda memesan tempat duduk, bagasi, dan makanan, bisa saja jumlah yang anda bayarkan setara dengan harga tiket full-serviced airline. Saran saya jika bepergian dengan AirAsia, tidak perlu untuk membawa bagasi. Beberapa hari sebelum tanggal keberangkatan, anda dapat melakukan cek-in secara online melalui situs airasia.com. Di beberapa bandara, anda tidak perlu mengantri panjang karena sudah disediakan tempat pengecekan dokumen khusus bagi yang telah melakukan cek-in secara online.

Tidak ada yang istimewa ketika berada di kabin pesawat AirAsia yang hampir kesemuanya merupakan jenis Airbus A320-200 dengan pesawat yang tergolong relatif baru. Tempat duduknya berlapis kulit dan cukup nyaman walaupun legroomnya terbatas. Jika anda ingin legroom yang agak luas, anda dapat memesan Hot Seat yang posisinya berada di depan atau di barisan pintu darurat dengan menambah sedikit biaya. Jangan berharap anda mendapatkan hiburan semacam AVOD atau PTV, karena satu-satunya hiburan di dalam pesawat adalah majalah milik AirAsia yaitu Travel 3 Sixty (tidak dapat dibawa pulang). Saya sarankan anda untuk mempersiapkan diri dengan gadget pribadi seperti smartphone / tablet / iPod untuk menghibur diri sepanjang perjalanan. Apabila anda lapar di perjalanan namun belum memesan makanan secara online, anda dapat memesan ketika anda sudah berada di pesawat walaupun pilihan menunya lebih terbatas dan beberapa item harganya lebih mahal.

Dari pengalaman saya, karakter pramugari/pramugara AirAsia cukup bervariasi, ada beberapa yang sangat ramah, ada beberapa yang judes dan tidak ramah, dan ada beberapa pula yang biasa-biasa saja.

Memang menggunakan AirAsia tidak akan senyaman apabila menggunakan full-serviced airline, namun apabila anda mendapatkan tiket promo dan tidak memerlukan tambahan bagasi, anda akan dapat menghemat banyak uang dibandingkan dengan menggunakan full-serviced airline.

Kamis, 14 Februari 2013

Review: Sony bdv-e290 Blu-ray Home Theater System


Overview:
Ketika seorang teman ingin meng-upgrade home theater system dikamarnya, ia menawarkan kepada saya sebuah Sony bdv-e290 Blu-ray home theater system yang baru dipakainya kurang dari satu tahun. Karena harga yang ditawarkan cukup menggiurkan dan saya tahu “sejarah” barang tersebut, saya tidak pikir panjang untuk membeli dari dia.

Memang teknologi berkembang dengan sangat cepat, tahun 2010 harga sebuah Blu-ray home theater system masih cukup mahal, sedangkan di tahun 2013 harga Blu-ray home theater system sudah sangat murah. Harga baru Sony bdv-e290 bahkan jauh dibawah Pioneer HTZ-101 (DVD home theater system yang saya punya sebelumnya) ketika pertama kali diluncurkan tahun 2010, padahal Pioneer HTZ-101 hanya bisa memutar DVD dan tidak bisa memutar Blu-ray disc.

Untuk memutar film dengan format suara Dolby Digital 5.1 atau DTS 5.1, saya merasa suara Sony bdv-e290 masih kalah dengan Pioneer HTZ-101, suara bass kadang terasa terlalu menyentak, dibandingkan dengan bass dari Pioneer HTZ-101 yang terkesan lebih soft dan dramatis, bukan sekedar menyentak. Namun demikian, kualitas gambar (via kabel HDMI ke Toshiba LCD Power TV) dan suara secara keseluruhan samasekali tidak mengecewakan.

Berbeda dengan Pioneer HTZ-101, fitur USB pada Sony bdv-e290 cukup memuaskan. Musik MP3 dengan bit-rate rendah sekalipun dapat terdengar cukup baik. Selain itu, fitur yang selalu saya gunakan adalah USB port yang kompatibel dengan iPod dimana Sony bdv-e290 dapat memainkan lagu-lagu didalam iPod dengan jernih.

Sangat disayangkan Sony bdv-e290 start-up-nya tergolong lambat. Untuk berpindah dari function satu ke function lain seperti dari DVD ke USB juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Ini menjadi kelemahan yang cukup mengganggu.

Pros:
- Harga baru tergolong murah dan worth the money
- Tidak harus menempatkan speaker-speaker mengelilingi ruangan untuk mendapatkan efek surround, semua speaker ditempatkan didepanpun efek surround sudah sangat bisa dirasakan dengan setting yang cukup mudah
- Colokan USBnya sudah kompatibel dengan iPod dan mampu menyalurkan suara yang baik bahkan dari MP3 dengan bit-rate yang rendah
- Internet ready, cukup dengan menambahkan Sony Wifi adaptor

Cons:
- Bass dari subwoofer kesannya terkadang terlalu menyentak dan kurang soft
- Blu-ray disc / DVD bajakan terkadang di-blok dan tidak dapat diputar
- Material cover speaker plastiknya berkesan murah
- Loading start-up dan pindah function cukup lambat

Kamis, 26 April 2012

Tips: Memasang Peredam Tambahan

Apakah anda termasuk golongan yang kurang puas dengan peredaman mobil anda? Apakah anda sering terganggu dengan suara ban / mesin / angin yang terdengar dari dalam kabin mobil? Jika iya, berarti anda perlu untuk memasang peredam tambahan di mobil anda.
Peredam yang lazim digunakan untuk membuat senyap kabin kendaraan umumnya terbuat dari material aspal atau karet. Banyak yang khawatir menambah peredam akan menambah bobot kendaraan yang mengakibatkan konsumsi bahan bakar jadi boros. Hal tersebut menurut saya tidak perlu untuk terlalu dipikirkan, mengingat memasang peredam aspal fullbody menambah bobot tidak lebih dari 40kg, seberat anak SD. Jika anda punya anak SD seberat 40kg bersama dengan anda di dalam mobil, apakah anak SD tersebut akan membuat kendaraan anda terasa lebih boros? Saya rasa tidak, jadi jangan khawatir kendaraan anda akan bertambah boros jika dipasang peredam tambahan. Pemasangan peredam dapat dilakukan di instalatur audio.

Jika dana anda terbatas, saya sarankan memasang peredam tambahan di kendaraan anda setahap demi setahap, tidak harus langsung fullbody. Pasanglah peredam tambahan di daerah yang paling vital terlebih dahulu yaitu kedua pintu depan. Pemasangan peredam di kedua pintu depan akan langsung terasa dampaknya oleh pengemudi. Jika di pintu depan terdapat speaker baik tweeter maupun midbass, suara yang dihasilkan oleh speaker tersebut dijamin akan semakin baik karena gangguan suara dari luar jauh berkurang. Merek peredam yang baik digunakan adalah Dynamat, namun harganya cukup mahal, jika ingin merek yang lebih murah dapat menggunakan Automat. Jika telah terpasang, rasakan bedanya ketika menutup pintu, suaranya seperti menutup pintu mobil yang lebih mahal.

Tahap selanjutnya setelah kedua pintu depan adalah plafon. Plafon sangat perlu dilapisi peredam tambahan untuk mengurangi suara air hujan yang jatuh ke atap mobil dan juga meredam panas jika mobil diparkir ditempat yang terik. Untuk itu, peredam yang digunakan saya sarankan yang dilapisi dengan aluminium foil, seperti Dynamat Extreme atau Checkmat.
Setelah plafon telah terlapisi, saatnya melapisi lantai dan firewall. Lantai dan firewall sangat penting untuk dilapisi peredam jika ingin mengurangi suara gemuruh dari ban dan juga mesin. Memasang peredam di firewall tidak perlu sampai membongkar dasbor, cukup sampai lekukan lantai paling depan. Peredam yang baik digunakan tetap Dynamat, namun jika dana terbatas, saya sarankan menggunakan peredam lembaran aspal dari Wurth karena ukuran lembaran yang cukup lebar dan cukup tebal.
Kekurangan Wurth adalah bahannya yang berat dan kurang fleksibel sehingga agak susah jika ingin memasang Wurth di pintu, sehingga hanya cocok untuk lantai kendaraan. Saya kurang menyarankan menggunakan Automat karena akan menghabiskan terlalu banyak lembaran untuk melapisi seluruh lantai. Jika lantai telah terlapisi oleh peredam aspal, sebelum memasang karpet, saya sarankan lapisi dulu dengan rockwool cotton agar semakin senyap dan lantai menjadi empuk.

Setelah pintu depan, plafon dan lantai telah terlapisi, saya jamin mobil anda sudah terasa jauh lebih senyap dari standarnya. Jika masih memiliki dana untuk menambah peredam, baru kita lapis pintu belakang dan juga pilar-pilar, bisa menggunakan Dynamat atau Automat. Jika anda memasang subwoofer di bagasi anda, pastikan bagasi juga dilapisi oleh peredam agar suara yang dihasilkan lebih baik.

Yang harus diperhatikan saat pemasangan peredam adalah bobot peredam itu sendiri, jangan sampai engsel pintu tidak kuat menahan beban peredam. Pasanglah peredam secara wajar, yakni satu lapis ditempel di bodi kendaraan dan lapis kedua dipasang dibalik doortrim. Selalu perhatikan kondisi engsel pintu. Untuk pemasangan di pintu bagasi mobil hatchback juga saya sarankan jangan terlalu berat karena akan membebani teleskopik penahan pintu.

Setelah peredam tambahan terpasang, silakan rasakan bedanya.

Rabu, 25 April 2012

Tips: Memilih Head Unit Pengganti

Apakah anda termasuk seseorang yang kurang puas dengan kualitas atau fasilitas head unit bawaan mobil anda? Di dalam blog ini saya akan berbagi tips memilih head unit pengganti.
Sebelum memutuskan untuk mengganti head unit, kita harus menganalisa alasan mengapa kita ingin mengganti head unit dan apakah benar-benar perlu untuk diganti. Kita harus mengetahui kekurangan dan kelebihan head unit standar terlebih dahulu. Kita juga harus memikirkan estetika pada dasbor apabila head unit standar diganti (terutama jika head unit terintegrasi pada dasbor).
Jika kelengkapan pada head unit standar sudah cukup baik namun kita kurang puas dengan suara yang dihasilkan, tidak perlu sampai mengganti head unit. Head unit milik Ford Fiesta contohnya, sudah terintegrasi dengan dasbor dan memiliki fitur bluetooth dan voice-command, cukup canggih untuk sebuah head unit standar. Jika demikian, saya tidak menyarankan menggantinya dengan head unit aftermarket, tapi cukup dengan mengganti speaker / memindah posisi tweeter / atau menambah amplifier serta subwoofer.
Jika ingin suara yang lebih presisi bisa mengaplikasi sound processor. Jika head unit bawaan tidak memiliki output RCA untuk menghubungkan dengan amplifier, bisa menambahkan line-out converter. Pilih line-out converter yang berkualitas untuk menghindari konslet, storring, atau kerusakan pada amplifier maupun head unit. Jika kita tetap bersikukuh untuk mengganti head unit standar, tentukan budget lalu buat daftar fasilitas / kelengkapan yang kita butuhkan yang harus ada pada head unit pengganti.
Contoh 1: (Tuner – WMA - MP3 - Aux input – iPod connector). Jika hanya demikian kebutuhannya, berarti tidak perlu memilih head unit yang terlalu mahal, cukup sekelas Pioneer DEH-2450UB yang harganya tidak sampai Rp 1,5 juta.
Contoh 2: (Tuner – WMA – MP3 – Aux input – iPod connector – bluetooth). Berarti kita harus menyediakan budget lebih untuk membeli head unit sekelas Pioneer DEH-4450BT yang sudah mengadopsi fitur bluetooth, harganya tidak sampai Rp 1,9 juta.
Contoh 3: (Tuner – WMA – MP3 – VCD – DVD – TV Tuner). Berarti kita akan membeli head unit yang memiliki layar LCD untuk menonton film. Untuk merek paten seperti Pioneer, Kenwood, Alpine, atau Clarion sudah pasti harus mengeluarkan dana diatas 3 juta, namun jika kita percaya dengan merek Cina kita bisa medapatkannya dengan harga yang jauh lebih murah. Jika membeli merek Cina, saya sarankan baca review mengenai produk tersebut, daripada kecewa dengan kualitasnya. Merek paten biasanya dari segi kualitas tidak mengecewakan. Semakin mahal semakin banyak pula fitur tambahannya, seperti GPS dan kamera parkir.
Contoh 4: (WMA – low pass filter – high pass filter – 24 bit equalizer – time delay). Kalau maunya seperti ini, berarti kita benar-benar ingin mendapatkan Sound Quality yang sebenar-benarnya. Konsultasikan dengan audioworkshop langganan, biasanya mereka akan menyarankan head unit seperti Alpine CDA-9887 / CDA-177E (yang gampang dan familiar untuk diset para instalatur audio) atau seri diatasnya (F1-Status bagi yang dananya tidak terbatas) atau kalaupun memakai yang lebih rendah, disarankan pakai digital processor semacam Alpine PXA-H100. Jadi jangan kaget kalau ingin yang benar-benar berkualitas harganya sudah pasti diatas Rp 3,5 juta. Kalau merek Pioneer rekomendasinya DEH-8450BT keatas, atau sekalian DEX-P99RS.
Kalau mobil anda sudah ada fitur audio control di setir, saya sarankan cari head unit yang tersedia remote adaptor sehingga fitur audio control di setir tersebut masih bisa digunakan. Satu lagi, jika sebelumnya head unit anda integrated ke dasbor, pastikan cover dasbor penggantinya serasi agar dasbor tetap terlihat rapi.

Sabtu, 03 Desember 2011

Review: Pioneer HTZ–101 DVD Home Theater System


Overview:
Sewaktu jalan-jalan di Best Denki Mall Kelapa Gading saya dibuat penasaran sama produk home theater yang sedang didisplay yang sedang memutar film Pearl Harbor, suara tembakan senapan mesin sama pesawat bisa berputar dari kanan ke kiri dengan suara ledakan yang menggelegar, tidak menusuk telinga, sangat riil. Begitu ditanya, ternyata produk tersebut adalah Pioneer HTZ -101. Produk ini adalah home theater system termurah yang dikeluarkan oleh pabrikan Pioneer. Saya kira semua home theater system bisa mengeluarkan suara yang setara, namun ketika DVD Pearl Harbor tersebut saya minta diputarkan ke home theater system lain dengan harga yang lebih murah seperti Panasonic SC-XH150 dan Samsung HT-D550, ternyata suaranya jauuuh banget bedanya, suaranya tidak bisa sedramatis HTZ-101. Harga memang tidak menipu, dengan harga yang sama, merek lain sudah bisa dapet pemutar Blu-Ray. Untuk merek Pioneer, home theater system pemutar Blu-Ray Disc harganya dua kali lipat HTZ-101 ini. Karena saya mementingkan kualitas suara daripada memaksakan beli Blu-Ray player dengan suara pas-pasan, saya tidak berpikir panjang untuk ambil HTZ-101.

Pengalaman saya dengan HTZ-101, playernya rada manja, sering kali tidak mau membaca DVD bajakan dimana player lain bisa membaca, namun sempurna saat memutar DVD original. Beberapa DVD original yang telah saya coba dengan HTZ-101 antara lain The Expandables, Diary of a Wimpy Kid, dan Disney’s “Up!”. Semua film suaranya bisa keluar mantap, gambarpun sangat bening saat disandingkan dengan Panasonic Vierra S1 LCD menggunakan kabel HDMI. Beberapa DVD bajakan yang berhasil saya coba dengan suara dan gambar yang memuaskan antara lain Transformers, Transformers 2, dan 2012. Namun favorit saya untuk diputar dengan HTZ-101 adalah DVD original Hit Man dan Hit Man Returns-nya David Foster and Friends, suara yang dihasilkan bener-bener serasa nonton konser live.

Sayangnya HTZ-101 suaranya kurang memuaskan untuk memutar CD musik, yang original sekalipun. Menurut saya wajar karena HTZ-101 lebih diperuntukkan untuk memutar sound format DTS 5.1 dan mengutamakan fitur surround.

Pros:
- Kualitas suara saat memutar DVD dengan sound format DTS 5.1
- Tidak harus menempatkan speaker-speaker mengelilingi ruangan untuk mendapatkan efek surround, semua speaker ditempatkan didepanpun efek surround sudah sangat bisa dirasakan
- Bentuk player dan speaker sederhana, cocok disandingkan dengan LCD/LED TV merek apa aja
- Fitur HDMI dapat menyalurkan gambar HD dengan bening sempurna ke TV dengan fitur HDMI
- Ada colokan USBnya (walaupun suaranya ga bisa bagus)
- Ada mic inputnya kalo pengen karaoke

Cons:
- Belum bisa memutar Blu-Ray disc
- Tidak ada iPod dock
- Suara kurang memuaskan ketika mendengarkan lagu-lagu dari CD, meski original
- Tidak bisa memainkan lagu-lagu melalui USB dengan suara yang baik meski dengan bit-rate tinggi

Tips: Membersihkan Ruang Mesin

Banyak orang yang lupa memperhatikan kondisi ruang mesin mobil mereka. Hal ini sangat disayangkan karena mesin adalah jantung dari mobil kita yang perlu diperhatikan kebersihannya. Kebersihan ruang mesin dapat mempengaruhi keawetan komponen-komponen di dalamnya. Adanya sisa oli di ruang mesin walau sedikit bisa membuat debu menempel yang kalau dibiarkan terlalu lama bisa merusak komponen seperti kabel-kabel, karet-karet, dan sil-sil. Debu yang terlalu banyak menempel juga membuat filter udara tidak awet karena debu selalu tersedot kedalamnya.

Dalam blog kali ini saya akan memberikan sedikit tips mengenai cara membersihkan ruang mesin.

Kalau kondisi ruang mesin udah bener-bener parah dengan oli bercampur debu mau tidak mau kita harus membersihkan dengan metode ‘basah’, dengan kata lain menyemprot ruang mesin dengan air. Sebelum memulai, komponen vital yang rawan terhadap air harus ditutup, seperti ECU, koil, sekitar busi, dan terminal aki. Pastikan pula mesin dalam keadaan dingin, jangan menyemprot mesin dengan air jika mesin panas. Jika sudah, kita sempot dengan air, lebih baik menggunakan yang bertekanan tinggi. Setelah disemprot air, kita bersihkan menggunakan sampo mobil. Saya tidak menyarankan menggunakan sabun cuci/sabun colek karena kandungan deterjennya tidak ramah bagi cat mobil (saya tetap ingin cat mobil di ruang mesin mengkilap). Bersihkan bagian-bagian yang sulit dijangkau menggunakan kuas atau sikat gigi. Setelah dibilas, segera keringkan menggunakan lap chamois atau microfibre. Akan lebih baik jika kita semprot menggunakan angin bertekanan. Kemudian nyalakan mesin, panas mesin akan mengeringkan bagian-bagian yang sulit dilap sehingga mengurangi potensi munculnya karat. Matikan mesin setelah mesin panas dan sisa-sisa air mengering.

Jika setelah dicuci tetap ada bekas-bekas oli, kita dapat membersihkan bekas-bekas oli tersebut menggunakan engine degreaser. Banyak merek yang tersedia di pasaran seperti Meguiar’s, Prestone, dsb. Jika tidak dapat menemukan engine degreaser, dapat menggunakan multi-purpose cleaner seperti KIT Multi-Purpose Cleaner (warna oranye). Semprotkan ke bagian yang masih terdapat bekas-bekas oli, bersihkan dengan kuas, dan dilap pakai lap katun bersih. Hati-hati menyemprotkan engine degreaser ke bagian plastik atau karet karena jika tidak langsung dibersihkan dapat membuat plastik atau karet tersebut cenderung lembek yang pada akhirnya getas. Salah satu trik untuk membersihkan bagian mesin yang terbuat dari metal, selain engine degreaser atau multi-purpose cleaner adalah menggunakan carburator cleaner. Carburator cleaner sangat efektif merontokkan sisa-sisa oli.

Jika ruang mesin sudah bersih dari bekas-bekas oli, saatnya mengkilapkan. Saya menyarankan untuk menggunakan engine detailer seperti Meguiar’s, namun jika tidak ada, bisa menggunakan pembersih vinyl/dasbor seperti KIT. Engine detailer atau pembersih vinyl/interior digunakan untuk mengkilapkan bagian-bagian yang terbuat dari plastik dan karet. Bagian metal dapat digosok pakai metal polish, bisa menggunakan Meguiar’s Metal Polish, KIT Metal Polish, atau Autosol. Bagian bodi di dalam ruang mesin dapat kita wax. Caranya sama dengan ngewax bodi seperti yang telah saya terangkan dalam blog saya mengenai Tips: Merawat Cat Mobil.

Jika sudah bersih harus dirawat dong. Perawatan sebaiknya dilakukan setiap habis menggunakan mobil, sama frekuensinya seperti kita ngelap atau nyuci mobil kita, ruang mesin harus selalu dicek kebersihannya. Tapi untuk sehari-hari tidak perlu metode ‘basah’. Cukup bagian yang berdebu dibersihkan dengan kuas sambil divakum menggunakan vacum cleaner. Mungkin cara ini dianggap aneh, tapi cara ini sangat efektif membersihkan debu di ruang mesin (yang bebas dari bekas-bekas oli). Jika bagian karet/plastik sudah tidak mengkilap, ulangi kembali proses pengkilapan menggunakan engine detailer atau pembersih vinyl/dasbor.

Jika ruang mesin selalu bersih, pasti komponen-komponen di dalam ruang mesin akan awet, dan jika mobil akan dijual, ruang mesin yang bersih akan menambah nilai mobil itu.